SDK Sang Timur Yogyakarta

SDK Sang Timur Yogyakarta

Kasih - Peduli - Cerdas -Transformatif
Terakreditasi A
BERITA

Mengajar dengan Kasih, Jejak Hati Pak Hartono di SDK Sang Timur Yogyakarta

26/Mar/2026
Mengajar dengan Kasih, Jejak Hati Pak Hartono di SDK Sang Timur Yogyakarta

Suasana kelas pagi itu terasa hangat. Senyum anak-anak menyambut kehadiran Pak Hartono yang dengan sabar membuka pelajaran hari itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin rutinitas biasa. Namun bagi Pak Hartono, setiap pertemuan di kelas adalah momen berharga yang tak pernah sama.

Menjadi guru di SDK Sang Timur Yogyakarta bukan sekadar pekerjaan baginya. Ini adalah panggilan hidup yang dijalani dengan penuh syukur dan ketulusan. Dalam setiap langkahnya, ia menghidupi semangat wasis hangasihi—mendidik dengan kasih dan kebijaksanaan.



“Menjadi guru adalah anugerah yang saya syukuri. Saya menjalaninya dengan senang hati dan tidak pernah menyesal memilih jalan ini,” ungkap Pak Hartono dengan sederhana.

Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, Pak Hartono tetap setia pada satu hal: mengajar dengan hati. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang perlu dirawat dengan kasih, bukan sekadar dinilai dengan angka.

Seperti pesan Beata Clara Fey, “Didiklah anak-anak dengan hati, karena dari sanalah mereka akan belajar mencintai.” Nilai inilah yang hidup dalam keseharian Pak Hartono—hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan teladan.

Perhatian kecil, sapaan hangat, serta kesabaran dalam membimbing menjadi cara sederhana namun bermakna dalam membentuk karakter siswa. Di balik papan tulis dan buku pelajaran, tersimpan misi yang lebih besar: memanusiakan manusia.

SDK Sang Timur Yogyakarta terus berkomitmen menumbuhkan pendidikan yang berakar pada kasih, kepedulian, dan pelayanan. Dalam semangat itulah, sosok-sosok seperti Pak Hartono menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati.

Menjadi guru memang bukan jalan yang mudah. Namun bagi Pak Hartono, setiap lelah terbayar dengan senyum dan perkembangan anak-anak. Sebab ketika mengajar dengan hati, tidak ada ruang untuk penyesalan—yang ada hanyalah rasa syukur yang terus bertumbuh.

IH

 kembali